Tuesday, December 7, 2010

Oma Tetaplah Oma!


Jika berbicara tentang sosok Oma Ida Kusumah, mungkin tidak hanya cukup dengan satu kali post dalam blog ini. Tapi saya coba untuk menuturkan bagaimana kebahagian kami, keluarga besar Cinta Fitri dan khususnya saya. Oma, begitu kami akrab memanggil almarhumah Ida Kusumah, awal pertemuan saya dengan Oma adalah ketika saya mendapat kesempatan main di Cinta Fitri. Siapa yang tak mengenal beliau, sebelum saya lahir pun beliau sudah eksis di dunia seni peran hampir lebih dari 30 film dan banyak sinetron maupun iklan ia bintangi.
Walaupun dengan segala prestasi dan pengalamanya dalam dunia seni peran akan tetapi Oma tetaplah orang yang sangat ramah dan bersahaja. Ia tidak membeda-bedakan kami yang notabenya adalah juniornya di dunia seni peran. Jujur saya bingung harus memulai dari mana jika bercerita tentang Oma karena terlalu banyak kenangan kami dengan beliau. Semasa hidupnya oma banyak berpesan kepada kami mengenai pengalaman hidupnya dan perjuanganya berada di dunia seni peran. Banyak sekali petuah yang ia berikan kepada kami, Oma selalu berpesan kepada kami untuk maksimal jika kami benar-benar mencintai dunia seni peran.
Kenangan mengenai oma sangat membekas di hidup kami. Saya bahkan hingga detik ini masih sering terbayang-bayang moment kebersamaan kami. Saya rindu disaat kami bersenda gurau, saling tertawa berbagi cerita. Oma selalu bercerita mengenai perjalan hidupnya kepada kami, perjuangannya dikala ia muda hingga ia bisa bertahan hingga saat ini. Banyak sekali yang ia ceritakan. Oma selalu berpesan agar kita mengetahui sejarah dunia yang saya cintai ini, yaitu dunia seni peran. Ia selalu berkata agar kita tidak melupakan sejarah dunia perfilman dan untungnya saya termasuk orang yang beruntung karena bisa mendengar banyak cerita mengenai dunia seni peran dan industrinya dari masa ke masa langsung dari mulutnya.
Oma adalah figure yang luar biasa bagi saya, seseorang yang kuat dan pantang menyerah dalam hidupnya. Hal yang tidak pernah akan saya lupakan adalah pesannya kepada saya untuk total, maksimal, dan all-out dalam beracting. Oma selalu marah-marah kalau dia disuruh shooting tapi dia belum mendapatkan scenario (Script) dan membacanya, pasti dia langsung berteriak “Skenario itu adalah senjatanya pemain!” dan saya setuju dengan pernyataannya ini. Beliau berkata bagaimana kita mau berperang kalau kita belum punya senjata. Dia menganggap set shooting adalah medan perangnya dan kami para pemain adalah para prajurit yang harus dapat menaklukan perang tersebut dengan medan apapun. Bahkan hebatnya lagi di usianya yang sudah cukup senja Oma masih dengan cukup baik mengingat setiap adegan yang ada di scenario, dialog yang ada di dalamnya, bahkan ia bisa tau baju apa saja yang dia akan pakai di setiap scenenya. Totalitas oma di dunia pekerjaannya wajib di contoh.
Disiplin, inilah prinsip yang Oma pegang. Dan memang betul, ia membuktikan prinsipnya ini dalam kesehariannya. Ia tidak pernah telat datang ke lokasi. Bisa di bilang kalau dia di calling jam 12 dia sudah ada di lokasi setengah jam sebelumnya, kadang kita bilang oma itu bukanlah pemain yang “On Time” tapi dia adalah pemain “Before-Time”, karena selalu datang lebih awal. Ini kadang membuat kami para pemain muda merasa malu kalau kami datang telat ke lokasi. Kebiasaan Oma dan prinsipnya ini membuat kami ingin menjadi lebih baik.
Kenangan saya terakhir dengan Oma tak akan pernah saya lupakan, saat-saat terakhir bersama Oma sebelum dirinya menutup mata sangatlah membekas dalam diri saya. Sebelum semua kejadian mengagetkan itu terjadi Oma sempat bercerita bahwa dirinya ingin sekali berkumpul bersama kali terakhir kalinya, ia berkata ia ingin sekali berkumpul dengan sahabat-sahabatnya dari Golden Girl. Itu permintaan terakhirnya. Oma sempat berkata bahwa ia sangat merindukan saat-saat bersama keluarga besar cinta fitri, sebelum menutup hidupnya dalam tawanya ia berkata “Oma pasti bakal kangen ngumpul-ngumpul sama kalian, bisa ga yah kayak gini lagi?” saat itu kami menganggap itu hanyalah omongan biasa dari Oma, tapi ternyata itu menjadi pernyataan terakhirnya.
Masih benar-benar teringat di benak saya bagaimana tawa terakhirnya, senyum terakhirnya dan posisi terakhirnya sebelum kami benar-benar terpisah dengannya. (huh menulis bagian ini rasanya campur aduk sekali yah.). Tanpa kata perpisahan dia meninggalkan kami semua tepat dihadapan kami. Hal yang paling masih belum saya percaya adalah saat itu Oma sama sekali tidak mengeluh sakit yang ingin dia lakukan hanya lah ia ingin makan bubur. Dan itu merupakan mangkuk terakhir dalam hidupnya.
Moment disaat semua itu terjadi benar-benar cepat dan tak terbayangkan sebelumnya oleh saya. Semua terjadi begitu cepat disaat dia memejamkan mata dan kakinya terasa begitu dingin. Begitu sedih mengingat semua kejadian itu. Itulah saat-saat terakhir kami dengan Oma. Sempat terbesit ke sedikit keoptimisan saya bahwa Oma akan baik-baik saja. Akan tetapi itu semua hanyalah harapan, Oma harus pergi meninggalkan kami semua. Perasaan sedih yang saya rasakan saat itu tidak dengan mudah terbendung, rasa kehilangan yang luar biasa saya rasakan. Semua seperti mimpi!
Ingin rasanya saya mengucapkan kata-kata perpisahan kepada beliau, mungkin di dalam tulisan ini bisa sedikit saya curahkan apa yang ingin saya katakan kepada beliau.

“Oma… kalau Oma mendengar dan melihat kami darisana, Belum sempat aku dan keluarga cinta fitri lainnya mengucapkan selamat jalan kepadamu. Kau tak akan kami lupakan semangatmu selalu akan kami kenang. Aku rindu Oma, semua rindu Oma. Terimakasih Oma kau selalu menjadi inspirasi kami. Dan maafkan kami selama ini jika kami khusunya saya sempat membuat Oma letih dengan tingkah laku kami di saat kita semua bercanda. Kami semua sayang sekali sama Oma. Selamat jalan Oma’ku tersayang, kau kembali padaNYA dengan tenang dihadapan kami. Kami yakin dengan semua amal ibadahmu kau pasti akan mendapatkan tempat special di sisiNYA. Kau wanita luar biasa, dedikasimu terhadap dunia yang kau cintai tiada duanya. Kau tak akan terganti di hati kami. Sekali lagi selamat jalan Oma Ida, tunggu kami disana. Janganlah kau takut kesepian Tuhan bersamamu. Peluk cium untukmu yang tersayang Oma Ida. Kami selalu merindukanmu.”


Beliau telah pergi meninggalkan kami tapi segala hal yang berhubungan dengannya tidak akan mudah pudar. Beliau adalah seorang legenda dan saya merasa sangat bangga pernah mengenal seorang legenda dalam hidup saya. Segala hal akan kami ingat selalu, semua kenangan itu terasa begitu indah dan berwarna. Kami rindu tawamu, kami rindu segala hal tentangnya, tapi kami pun ikhlas dan rela membiarkannya pergi meninggalkan kami. We love you Oma.



13 comments:

  1. kesedihan sdh berlalu, tetapi oma tdk berlalu. Oma tetap ada dihati kita semua dgn masing2 kenangannya tersendiri, dari sanak keluarga, keluarga cinta fitri, para sahabat dan para pemirsa yg sering menyaksikan oma dilayar kaca. selamat jalan Oma, we love you Oma Ida :(

    ReplyDelete
  2. spt kata pak Manoj, cf seolah dah mjd life style yg brarti berikut all cast&kru. Mungkin qt smua udah ngenal Oma Ida dari jaman qt piyik, bukan cf yg mbesarin Oma Ida, tapi Oma ikut mbesarin nama cf....Kepergian oma tidak hanya duka kluarga besar cf, tp KITA semua juga mrasa kehilangan...BANGET..NGET...NGET...
    Good Bye Oma Ida Kusuma, see u next time.......

    ReplyDelete
  3. said.

    sedih kak ,aku tersentuh dengan kata2 kakak,aku turut merindu kan oma ida..we love you oma ida :*

    ReplyDelete
  4. Semoga Oma selalu mendapat tempat yang terindah di sisi Allah SWT..amin ya robbal alamin

    ReplyDelete
  5. Sabar ya kak Dinda, jngan sdih ya, Oma psti kangen jga sama kk kok ..

    ReplyDelete
  6. Baca cerita ini jadi inget nenek yg udah meninggal... terharu bgt ka dinda... :'( :')

    ReplyDelete
  7. ka aku nsedih banget klu tentang oma ida tuh

    ReplyDelete